Monday, March 3, 2008

Ayat - Ayat Cinta Review



Setelah menonton film ayat-ayat cinta yang di tayangkan bioskop itu, saya merasa ada yang kurang. Mungkin memang benar kata orang, ketika sesuatu ditulis begitu indah belum tentu bisa digambarkan dengan indah pula. Namun selain itu ada hal yang janggal dalam film tersebut:

Pertama ketika Aisha mengambil tasbih dari tangan fakhri, koq ngambil nya langsung ya sehingga menyentuh tangannya fakhri.

Kedua, Koq panggil nama ke suami sendiri.

Ketiga ... koq di film itu menunjukan kalo perempuan islam pada agresif ya padahal kan harusnya pemalu (berdasarkan hadist nabi)

Ketiga dan terakhir, ini sih bukan janggal tapi curahan hati aja ... Gak mau deh seperti Aisha berbagi suami dengan orang lain (Mudah-mudahan keluarga kami selalu langgeng hingga maut memisahkan, serta senantiasa diberkahi Allah S.W.T) Amien...

1 comment:

Dimas said...

Novel itu kan sebetulnya hanya memberikan gambaran umum mengenai suatu cerita, dan sebetulnya imajinasi kitalah yang memberikan detail pada cerita tsb (tergantung pada pribadi masing2). Jadi, kalau orang baca novel, sebetulnya ia sedang berkhayal dengan sebuah pembimbing bernama novel itu, kita menyelami kedalaman imajinasi kita yang setinggi langit...

Nggak semua orang bisa memasuki Islam secara kaffah. Masih ada ganjalan yang menghalanginya, entah itu kesetaraan gender-lah, HAM-lah, pluralisme, sekulerisme, modernisasi, dll. Makanya, terkadang Islam sering mendapat cercaan dari pihak asing (karena konsistensinya) dan sering dicampur2 (biar sesuai sama jaman, katanya). Tapi itukah Islam ?

Kalau di film itu memang beberapa hal gak bisa divisualisasikan, selain karena mereka memang bukan suami-istri (jadi bukan muhrim), juga masalah diatas itu...

(Maaf ya bu, komentarnya kepanjangan...)